Dalam tersebut dengan sanad yang berbeda di dalam sebuah

Dalam hukum Islam, hadis merupakan sumber hukum
pokok kedua setelah al-Qur’an. Kedudukan hadis yang begitu tinggi ini kemudian
mendorong para ulama untuk mempelajari, mengkaji
dan meneliti hadis-hadis Nabi SAW. Tujuannya antara lain untuk menjadikan hadis
sebagai landasan normatif dari seluruh aktifitas mereka dan aktifitas seluruh umat
Islam, baik yang berkenaan dengankehidupan profan, lebih-lebih yang berkenaan
dengan kehidupan akhirat. Penelitian hadis ini bertujuan antara lain untuk
mengetahui kualitas hadis yang
diuji. Pengetahuan tentang kualitas
suatu hadis sangat penting bagi umat Islam karena hadis merupakan pedoman yang
digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian hadis ini menggunakan metode takhrij hadits. Takhrij
hadits adalah penunjukan
terhadap tempat hadis di dalam sumber aslinya yang dijelaskan sanad dan martabatnya
sesuai keperluan.1
Kitab-kitab sumber hadits yang dimaksud adalah kutub al-sittah, Muwaththa’
Malik, kitab-kitab musnad, mustadrak, mushannaf dan sunan.
Demikian juga kitab-kitab jami’, mustakhraj, athraf dan
kitab-kitab selain hadits yang banyak menyebutkan hadits yang diriwayatkan
melalui sanad pengarangnya sendiri, seperti kitab tafsir al-Thabari.
Sedang nilai hadits yang dimaksud adalah shahih, hasan, dla’if atau
bahkan maudlu’ (palsu). Menurut al-‘Iraqi, menjelaskan nilai hadits
merupakan hasil dan sesuatu yang sangat penting dalam kegiatan takhriij
al-hadiits.2

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Manfaat
Takhrij hadis sangat besar terutama bagi orang yang mempelajari hadist dan
ilmunya. Manfaat tersebut antara lain mengetahui sumber otentik suatu hadist
dari buku hadist apa saja yang didapatkan, mengetahui ada berapa tempat hadist
tersebut dengan sanad yang berbeda di dalam sebuah buku hadist atau dalam
beberapa buku induk hadist, mengetahui kualitas hadist makbul (diterima)
atau mardud (ditolak), mengetahui eksistensi suatu hadist apakah benar
suatu hadist yang ingin diteliti terdapat dalam buku-buku hadist atau tidak, mengetahui
asal-usul riwayat hadist yang akan diteliti, mengetahui seluruh riwayat bagi
hadist yang akan diteliti, mengetahui ada atau tidak adanya syaahid dan mutaabi’
pada hadist yang akan diteliti.3

Hadits yang diteliti dalam makalah ini adalah salah satu hadits
tentang etika guru terhadap dirinya sendiri yang tertera dalam kitab “Adab
al-‘Aalim wa al-Muta’allim”, karya  KH.
Hasyim As’ariy, yakni “??? ????? ????????…”,
“Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci (oleh hawa nafsu)….”. Dalam
hal ini, KH. Hasyim As’ariy menjelaskan bahwa diantara kewajiban seorang guru
adalah senantiasa mendorong dirinya sendiri untuk selalu meningkatkan
pengetahuan yang dimilikinya melalui berbagai cara sebagaimana akan diuraikan
dalam pembahasan berikutnya. Akan tetapi persoalannya adalah bahwa di dalam
kitab tersebut Pengarang tidak menyebutkan periwayat maupun mukharrij
hadits tersebut di atas, sehingga hal ini menyisakan pertanyaan mengenai
kualitas haditsnya dan pada gilirannya juga tentang bagaimana status ke-hujjah­-an
hadits tersebut sehingga dapat dijadikan sebagai pegangan (al-i’tamad)
dan sandaran hukum (istinbaath al-hukm). 

Dari hasil pelacakan sementara dapat diketahui bahwa diantara mukharrij
yang meriwayatkan hadist tersebut adalah ‘Abdullah bin ‘Abd al-Rahman
al-Daramiy dalam kitab “Sunan al-Darimiy”. Dalam hal ini, Penulis akan mencoba
melacak orisinalitas hadits tersebut dalam kitab-kitab sumber hadits, khususnya
riwayat al-Darimiy yang dilengkapi oleh sanad-sanad-nya, kemudian
meneliti kualitas sanad dan matn hadits; yang meliputi
persambungan sanad, kualitas para periwayat, ada tidaknya syadz
dan ‘illat pada matnnya; serta melakukan kegiatan i’tibaar
al-sanad guna menemukan hadits-hadits yang berstatus
sebagai mutaabi’ dan syaahid. Melalui kegiatan itu, diharapkan
dapat diketahu kualitas sanad dan matn hadits yang dimaksud,
sehingga didapatkan kejelasan tentang penggunaannya sebagai hujjah dan
dapat diketahui makna dan pesan yang terkandung di dalam hadits tersebut.

1 Mahmud
Al-Thahhan, Taisir Mushthalah Al-Hadits, (Surabaya: Al-Haramain, T.Th.).
12

2Al-Hafizh
Al-‘Iraqi, “Mukaddimah”, dalam, Al-Mughni ‘An Haml Al-Asfaar Fi
Al-Asfaar Fi Takhriij Maa Fi Al-Ihyaa’ Min Al-Akhbaar (Beirut : Dar
Al-Ma’arif, Th.),  1.

3Syuhudi Ismail,
Metodologi Penelitian Hadit Nabi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991),44